Bayang-Bayang Kesalahan (3)

**Bab 2: Kemarahan yang Terpendam**

Arman melaju dengan motor tua kesayangannya, menembus jalanan Cisarua yang sepi. Angin malam yang dingin seolah mencoba meredakan amarah yang membara di dadanya, namun sia-sia. Kenangan akan tuduhan yang dilemparkan ibunya terus berputar di kepalanya, seperti rekaman yang tak bisa dihentikan.
Dia tahu, dia bukan anak yang sempurna. Kesalahan masa lalu memang pernah menodai tangan-tangannya yang kini menggenggam setang motor dengan erat. Namun, tekad untuk berubah sudah bulat di hatinya. Dia ingin membuktikan bahwa dia bisa lebih dari sekadar pencuri uang kecil-kecilan. Tapi, semua itu kini terasa mustahil. Bagaimana mungkin dia bisa membersihkan namanya jika ibunya sendiri tidak percaya padanya?

Dalam kecepatan dan kebisingan motor yang mengaum, Arman mencoba menenangkan pikirannya. Dia harus berpikir jernih, harus ada cara untuk membuktikan kebenaran. Tapi, pikiran itu segera terputus saat sebuah tikungan tajam mendekat. Refleksnya untuk memperlambat laju motor terlambat, dan dalam sekejap, dunia di sekelilingnya berputar.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku Principles of Power Karya Dion Yulianto

Mengenal Sarung BHS: Sarung Termahal di Dunia!

Cerita Bersambung : "Misteri di Villa Sang Hakim" (Part 5)