Bayang-Bayang Kesalahan (2)

**Bab 1: Tuduhan yang Memecah Keheningan**

Hari itu, Cisarua terasa lebih hangat dari biasanya. Matahari terik menyinari jalanan yang berdebu, dan orang-orang tampak sibuk dengan rutinitas harian mereka. Namun, di rumah keluarga Arman, suasana jauh dari kata damai.
Sang ibu, yang biasanya tenang dan terkendali, hari itu terlihat gelisah. Matanya yang tajam memeriksa setiap sudut ruangan, mencari sesuatu yang sangat berharga baginya. "Uangku, harusnya ada di sini," gumamnya, suaranya penuh kebingungan. Dia telah menyimpan sejumlah uang untuk membeli skincare yang sudah lama diidamkannya, namun kini uang itu lenyap.

Arman, yang baru saja pulang dari sekolah, langsung merasakan ketegangan di udara. "Ada apa, Bu?" tanyanya dengan hati-hati. Sang ibu, tanpa berpikir panjang, langsung menuding Arman. "Kamu pasti yang mengambilnya! Siapa lagi kalau bukan kamu?" teriaknya, tuduhan itu terlontar begitu saja, dipicu oleh kekecewaan dan rasa tidak percaya.

Arman terkejut. Ya, memang dulu dia sering mengambil uang tanpa izin, tetapi itu sudah berakhir. Dia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk berubah, untuk menjadi lebih baik. "Bu, saya tidak mengambil uang Ibu. Percayalah," ucap Arman, matanya menatap sang ibu, mencari sedikit saja kepercayaan.

Namun, sang ibu tidak bergeming. Kata-kata Arman seolah tak lebih dari angin lalu baginya. "Jangan bohong! Kamu selalu seperti ini. Pergi dari sini kalau kamu hanya akan menyusahkan!" bentak sang ibu dengan nada yang penuh amarah.

Arman merasa dunianya runtuh. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada tidak dipercaya oleh orang yang paling dicintainya. Dengan hati yang hancur dan pikiran yang kacau, Arman memutuskan untuk pergi. Dia mengambil kunci motor dan berjalan keluar rumah, meninggalkan sang ibu yang masih terpaku dengan rasa marah dan kebingungan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku Principles of Power Karya Dion Yulianto

Mengenal Sarung BHS: Sarung Termahal di Dunia!

Cerita Bersambung : "Misteri di Villa Sang Hakim" (Part 5)