Bayang-Bayang Kesalahan (1)

**Prolog: Kehilangan yang Menyesakkan di Cisarua**

Malam itu, langit Cisarua terasa lebih gelap dari biasanya. Angin sepoi-sepoi membawa desah yang berat, seolah turut berduka atas kesedihan yang menyelimuti sebuah rumah di pinggiran kota. Di dalamnya, seorang ibu terduduk lemas, matanya yang sembab tak lepas dari foto yang dipegangnya erat-erat. Foto itu, yang kini terasa begitu berharga, adalah satu-satunya kenangan yang tersisa dari Arman, putra semata wayangnya.
Rumah yang biasanya dipenuhi tawa dan canda kini hanya tinggal hening. Dinding-dinding yang dulu menjadi saksi bisu keceriaan, kini hanya menyimpan gema penyesalan. Sang ibu, yang dikenal sebagai wanita yang tegar dan penuh kasih, malam itu terkulai tak berdaya oleh beban rasa bersalah yang tak terukur.

Arman, anak muda yang penuh semangat dan impian, telah pergi meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang tak seorang pun harapkan. Semua berawal dari tuduhan yang terlontar begitu saja, umpatan yang diucapkan tanpa pikir panjang. Sang ibu tak pernah menyangka bahwa kata-kata yang diucapkannya dalam kemarahan akan menjadi kata-kata terakhir yang didengar Arman.

Kini, hanya bayang-bayang kesalahan yang terus menghantui. Di setiap sudut rumah, di setiap detik waktu, sang ibu merasakan kehadiran Arman, yang seolah bertanya, "Mengapa, Ibu?" Dan di setiap bisikan angin, di setiap desah malam, hanya ada satu kata yang terus bergema: penyesalan. Di luar, jalanan Cisarua yang berkelok dan terjal menjadi saksi bisu atas tragedi yang menimpa Arman, saat motornya tergelincir dan jatuh ke jurang yang dalam, mengakhiri segalanya dalam sekejap.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku Principles of Power Karya Dion Yulianto

Mengenal Sarung BHS: Sarung Termahal di Dunia!

Cerita Bersambung : "Misteri di Villa Sang Hakim" (Part 5)